Sponsor

Website si kembar Dina Faisal & Dita Faisal

Cek Sperma di Prodia Kamarnya Mirip Hotel



Bagi pasangan suami istri (Pasutri), menciptakan hubungan harmonis tentu menjadi tugas bersama. Mulai dari mengatur jadwal ibadah, mengatur keuangan, menyajikan makanan sehat, mengatur waktu silaturahmi, hingga merencanakan program kehamilan. Pada intinya, hampir seluruh pasangan yang telah menikah menginginkan keturunan yang sehat dan lucu.

Pasutri yang lama belum memiliki momongan biasanya akan segera memeriksakan diri ke dokter kebidanan dan kandungan. Umumnya, para dokter spesialis kebidanan dan kandungan akan menanyakan terlebih dulu kepada pasutri berapa lama pernikahan berlangsung. Jika lebih dari 2 tahun, maka dokter akan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut seperti cek kondisi rahim untuk istri dan analisis sperma (cek sperma) untuk suami.


Khusus istri, selain mengecek kondisi rahim dengan memasukkan alat ke dalam vagina, istri juga biasanya akan dianjurkan untuk tes TORCH (Toxoplasma IgM, Rubella IgM, CMV IgM,) ACA IgM, dan ACA IgG. Pemeriksaan TORCH untuk melihat ada tidaknya virus yang bisa menyebabkan terjadinya kelainan janin.

Bagaimana dengan suami? Yang menjadi kendala terbesar bagi istri adalah meyakinkan suami untuk pergi ke klinik atau rumah sakit guna memeriksakan kondisi sperma-nya. Tidak sedikit para suami yang mencari-cari alasan agar cek spermanya ditunda sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Bagi suami yang tidak mau bernegosiasi, biasanya akan menolak dengan tegas. Hal inilah yang sering membuat pasutri mengurungkan niatnya untuk kembali ke dokter setelah dokter meminta suami mengecek spermanya ke klinik. Jika sudah begini, maka surat pengantar dari dokter pada akhirnya berakhir dengan sia-sia atau hanya tergeletak di meja kerja.


Pasutri yang sudah siap mengecek sperma, syarat utama yang harus dilakukan adalah istirahat yang cukup, tidak berhubungan selama 5 hari terakhir namun tetap melakukannya secara berkala, dan mengurangi rokok. Jika syarat ini terpenuhi, maka pasutri segeralah ke klinik atau rumah sakit, seperti Prodia atau Pramita Lab yang menawarkan harga yang relatif murah sekitar Rp400.000 - Rp500.000. Sertakan pula surat keterangan dokter saat melakukan pendaftaran, karena petugas akan meminta surat keterangan dokter terlebih dahulu sebelum pengecekan sperma dimulai.


Sebelum datang ke  klinik, pastikan pasutri sudah membuat janji terlebih dulu untuk mendapatkan jadwal kamar karena tidak semua klinik Prodia menyediakan fasilitas pengecekan sperma. Datanglah tepat waktu sesuai yang dijadwalkan agar tidak terburu-buru saat pasutri berada di dalam kamar.


Prodia menyiapkan kamar khusus untuk cek sperma. Kamarnya cukup bersih setara dengan hotel bintang 3 pada umumnya. Fasilitas di kamar cek sperma yang disediakan Prodia, yaitu tempat tidur berukuran sekitar 90cmx120cm, kamar mandi, wastafel, dan televisi. Jika perlu, bawalah tisu, handuk, dan pakaian ganti sendiri agar pasutri lebih nyaman ketika berada di ruangan.

Sebelum masuk ke kamar, perawat akan memberikan pengarahan singkat kepada pasutri mulai tata cara mengeluarkan sperma tanpa berhubungan badan, meminta sang istri membawa wadah penampung sperma (air mani) yang disediakan oleh klinik, mencatat jam keluarnya sperma, dan memberitahukan fasilitas yang tersedia di dalam kamar.

Di Prodia, pasutri akan diberi waktu sekitar 1 jam hingga keluarnya sperma. Sperma yang keluar akan segera diserahkan kepada perawat yang menunggu di depan pintu dan segera membawa sampel sperma ke laboratorium untuk dianalisa. Perlu diketahui, bahwa dokter membutuhkan sperma minimal 2mm untuk bisa dianalisis oleh dokter. Jadi, sebelum masuk ke kamar dan membantu suami mengeluarkan sperma-nya, maka berdoalah bersama agar sperma yang dikeluarkan berkualitas baik sehingga menghasilkan keturunan yang sehat, sholeh, dan sholehah. Selamat periksa ya, calon ayah dan bunda!

Posting Komentar

0 Komentar