Sponsor

Website si kembar Dina Faisal & Dita Faisal

Nama Kami Kembar, Cuma Beda huruf N dan T Saja

Dina Faisal Dita Faisal

Pagi ini kulihat kalender digital di layar komputer. Berbekal google, lalu kuketikkan tanggal, bulan, serta tahun kelahiranku 01 Februari 1987. Minggu... ya Minggu. Hari itulah aku lahir di rumah sakit bernama Restu Ibu di Kota Balikpapan. Kota yang pernah berjuluk Kota Minyak.

Aku si bayi mungil itu lahir dengan berat 2,45 kg. "Kecil seperti botol," ucap ibuku padaku. Aku tak sendiri. Aku terlahir bersama bayi yang beratnya lebih mungil satu ons dariku. Katanya kami adalah bayi kembar yang lucu yang akrab dipanggil Dina dan Dita. 

Perbedaan waktu lahir Dina dan Dita berkisar lima menitan. Tidak lama memang. Tapi untuk seorang wanita berusia 40 tahun, melahirkan anak kembar tentu penuh risiko. Beberapa saat selepas lahiran, Ibu berpendapat bahwa bayi yang lahir belakangan dianggap yang paling tua karena mengalah. Tapi, berhubung dokter menyambar, "Bu, mana yang lahir duluan itulah yang kakaknya." Penjelasan dokter yang singkat itulah menjadi muasal mengapa Dina dianggap lebih tua dibanding Dita. 

Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap bahwa yang paling akhir lahir dari anak kembar disebabkan karena mengalahnya kakak pada adiknya. Mungkin itu juga yang menjadi landasan para ibu kembar menimbang siapa yang akan menjadi kakak dan siapa yang menjadi adik. Demi waktu, kami berdua tumbuh besar bersama dalam lingkungan keluarga yang lebih dari cukup, namun tidak berlebih.

Kami bersyukur terlahir kembar dari rahim Ibu yang hebat dan kuat. Seorang ibu pekerja yang selalu berusaha meluangkan waktunya untuk keenam putra-putrinya. 

Dulu semasa kecil, kami belum paham apa itu kata "lelah" sepulang kerja. Saat itu, yang kami tahu hanyalah membuka segera tas yang ibu jinjing di tangannya berharap ada sebuah permen atau kue kecil yang dibawakannya untuk kami. 

"Husshh... apa neh. Kada tahu urang uyuh. Jangan begitulah. Kebiasan kamu buka-buka tas. Nda bagus itu. Tau lah!" Ketus Ibu dalam bahasa Banjarnya. 

Sebuah sentilan yang menyesak di dada anak-anak tapi hilang sesaat kemudian. Nasihat berbahasa Banjar itu lalu kami telan dan terapkan. Kami pun lama-kelamaan mulai membiasakan diri untuk tak berharap apapun ketika ibu atau bapak pulang kerja. 

Sedikit demi sedikit memori kukumpulkan. Ingin rasanya sebelum mataku menutup, aku sempat menuangkannya dalam kisah yang bisa kubaca dihari tua. Mengenang apa yang pernah diceritakan oleh ibu dan bapak, juga kakak-kakak tentang kami berdua. 

Ingin pula rasanya kuhadiahkan tulisan ini untuk ibuku atas rasa terima kasihku yang sulit kuucap lewat nada dan suara. Semoga ibu sempat membacanya hingga tuntas menuju usia senjanya. 

Waktu Main Yang Serba Terbatas
Ah... lalu kutarik kembali ke belakang memori ini. Ingat aku ketika kecil bermain-main di lapangan sebelah rumah kami yang hanya dibatasi pagar berbahan ulin dengan sisi atasnya berbentuk segitiga. Bersama anak-anak sebaya, kami bermain di sore hari. Bermain asinan, lompat karet, dakon, dan petak umpet adalah kesukaan kami. Rasanya halaman rumah saat itu sangat luas karena sering dijadikan tempat berlatih bulu tangkis. 

Walaupun lapangan itu terasa luas, tapi waktu kami tak banyak bermain di sana. Baru saja bermain, kadang suara di kejauhan memanggil nama kami. "Dinaaa... Ditaa...  ayo pulang! sudah jam berapa ini.  Ayo mandi!" Lantang suara itu terdengar. "Oh, suara ibu," batin kami seraya berlari kecil bergegas meninggalkan teman-teman yang lain. "Aku duluan ya, sudah dipanggil ibuku." Kami hampir selalu menjadi yang paling dulu dipanggil. Jika suara itu sudah terdengar, teman-temanku cuma bisa bilang, "Yaaa... pulang ya Dina Dita."

Semua ada waktu, semua ada jamnya. Kalimat ini selalu dilontarkan ibu hampir di setiap nasihatnya. Hidup kami bak anak asrama yang begitu membuka mata wajib melakukan rutinitas yang sudah terjadwal. Sholat, berangkat ke sekolah, les mengaji, dan malamnya belajar membaca. Rasanya waktu bermain memang tak banyak. Tapi, inilah yang membuat kami tertempa untuk biasa berjuang dan mengatur waktu baik di saat sempit maupun luang.

Nama Kembar Sering Tertukar
"Laila Hajarul Aswadina," seorang guru memanggil nama kami di depan kelas dengan suara lantang. Bibir tipisnya langsung menjawab panggilan bu guru di sebuah ruang kelas berukuran 5x5m seraya mengacungkan jari telunjuknya, "Saya, Bu Guru." 

Sadar muridnya kembar, tapi tetap saja wali kelas bernama Poniati itu bingung membedakan mana yang Dina dan mana yang Dita. Tak jarang, perbedaan satu huruf N dan T pada nama kami kerap mengecohkan para guru dan wali murid di kelas-kelas yang ada di SDN 011 Balikpapan. 

Tak mau duduk berpisah, selama sekolah kami berjanji untuk pergi dan pulang bersama bahkan duduk sebangku bersama sampai lulus nanti. Namun sayang, kami tak bisa seterusnya bersama. Kebingungan guru dalam memanggil dan memberikan nilai menjadi alasan Bu Sunartinah untuk memisahkan kami di kelas yang berbeda. Dina Kelas VA (5A) Dita Kelas VB (5B). Sebagai bentuk protes, kami kompak untuk mogok sekolah sampai ibu mendatangi Bu Sunartinah, wali murid super galak yang memisahkan kami.

Sebelum ke kantor, Ibu yang kesehariannya sebagai Pegawai Negeri Sipil menyempatkan waktunya untuk mengajak serta kami menghadap Bu Sunartinah. Dengan berseragam lengkap, kami diboncengi vespa kesayangannya ibu. 

Satu demi satu anak tangga di sekolah kami langkahi dengan berdebar. Suara detup jantung rasanya saling bersahut dengan hak pantofel ibu yang menjadi ciri khasnya. Semakin mendekati pintu kelas, semakin kencang debaran jantung itu. Kami segera bersembunyi di balik bokong ibu, sambil sedikit-sedikit sedikit menguping percakapan keduanya. 

"Ya, Bu. Saya titip anak saya Bu ya," ucap ibu sembari pamit pulang bergegas ke kantor. Ketika ibu membalikan badannya, ketika itu pula kami harus pasrah menerima kenyataan untuk memisahkan diri di kelas yang letaknya bersebelahan. Tak tahan menahan air mat, dengan mata berkaca, kami yang tampak lemas saat itu menjadi semakin lemas karena hampir semua tempat duduk telah ditempati murid yang duluan datang pagi buta. Akhirnya Dita harus duduk dengan Adi, murid baru pindahan dari sekolah elit karena malu tidak naik kelas di sekolah asalnya. Sementara Dina duduk dengan teman perempuan yang perlahan mulai saling mengakrabkan diri.









Posting Komentar

0 Komentar